Mahapurisa atau Sappurisa berarti orang yang besar atau bijaksana. Orang ini memiliki tujuh karakteristik, sebagai berikut :
Yo vekatanmu katavedi dhiro,
Kalyanamitto dahla bahtti ca hoti,
Dukhitassa sakkacca karoti kiccam,
Tathavidham sappurisam vadanti
Atthsalini (384)
i. DIA SELALU BERHARAP UNTUK MENINGKATKAN DAN MEMPERSIAPKAN DIRINYA UNTUK KEHIDUPAN MENDATANG YANG LEBIH BAIK DARIPADA KEHIDUPAN SEKARANG.
Makhluk hidup pada dasarnya terdiri dari pikiran dan jasmani. Kita selalu menjaga tubuh jasmani kita yang bersifat materi. Ketika mata kita melemah kita menggunakan kacamata, ketika kita tidak dapat mendengar dengan jelas kita makan obat atau menggunakan alat Bantu pendengaran. Hal yang sama juga berlaku pada organ fisik lainnya seperti lidah, hidung, dan tubuh kita. Kita selalu menjaga fisik tubuh kita sehingga tetap baik dan sehat.
Tetapi hal tersulit adalah bagaimana menjaga pikiran kita. Jika kita ingin memiliki kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang, kita perlu memelihara pikiran kita. Jika kemarahan, nafsu, kedengkian atau kekotoran batin lainnya muncul dalam pikiran kita, kita harus segera menghilangkannya dengan segera. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita dapat hidup dengan penuh kesadaran, kita dapat menjaga pikiran kita dalam keadaan jernih dan selanjutnya mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Kebanyakan dari kita hanya mengetahui bagaimana menjaga tubuh jasmani dan mengabaikan pengembangan pikiran, jadi kita perlu memelihara pikiran untuk dapat meraih hidup yang lebih baik dari saat ini.
ii. DIA MEMILIKI KARAKTER APA ADANYA, JUJUR, BERTERUS TERANG DAN RASIONAL.
Dia melihat hal yang benar dan salah dengan menggunakan cara pandang yang benar, mempertimbangkan situasi, orang-orang, tempat, waktu dan memberi perhatian yang cukup atau pertimbangan terhadap masalah yang ada. Dengan sifat seperti ini, Sappurisa menjadi seorang pemimpin yang baik.
Dalam kisah jataka, ada setbuah cerita tentang seekor kera yang menyiram tanaman. Kera yang dilatih oleh tuannya cara menyiram tanaman. Suatu hari, tuannya ingin pergi dan menyuruh kera ini untuk menyiram tanaman. Perintahnya adalah siram tanaman yang memiliki akar panjang dengan lebih banyak air, dan untuk tanaman yang berakar pendek siram dengan air lebih sedikit. Kera ini tidak tahu tanaman yang berakar panjang dan tanaman mana yang berakar pendek, jadi kera ini menarik satu demi satu tanaman tersebut untuk mengetahui manakah yang berakar panjang dan manakah yang berakar pendek. Kemudian menyiraminya sesuai instruksi tuannya. Hasilnya, semua tanaman itu mati. Kera itu melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya tetapi tanpa kebijaksanaan sehingga hasilnya merusak. Jadi kita taidak hanya bertindak apa adanya, tetapi juga disertai kebijaksanaan pada saat melakukan pekerjaan kita.
iii. TAHU BERTERIMAKASIH KEPADA ORANG LAIN ATAS KEBAJIKAN MEREKA (KATANNU)
Hal ini seperti anak-anak kepada orang tuanya, para siswa kepada guru mereka, atau seperti kepada siapa saja yang telah memberikan manfaat bagi anda dengan cara apapun. Jika seseorang dapat berterimakasih atas kebaikan orang lain, pikiran mereka secara alamiah akan menjadi damai, kemudian mereka akan menjadi seorang yang pemaaf, toleran, sabar, dan dapat menerima kelemahan orang lain dengan mudah.
iv. MENGEMBALIKAN DAN MEMBALAS KEBAIKAN ORANG LAIN DENGAN PENUH TERIMA KASIH : (KATAVEDI)
Kapanpun ada kesempatan, kita harus membalas kebajikan yang kita terima. Seperti halnya anak-anak seharusnya menjaga orang tuanya di saat mereka tua, para siswa seharusnya membalas kebaikan gurunya sedapat mungkin. Mereka seharusnya dapat memaafkan orang yang telah membantunya bahkan jika mereka berbuat salah.
Sang Buddha dalam salah satu kehidupan beliau terdahulu saat menyempurnakan kebaikannya (paramitanya) pernah menjadi seekor singa, si raja hutan. Suatu hari, ketika dia sedang berburu makanan, dia terjatuh ke rawa-rawa. Ketika dia sedang berusaha keluar dari rawa-rawa itu, seekor rubah lewat dan singa meminta tolong kepadanya. Rubah itu takut sang singa akan memakannya sehingga dia tidak berani mendekat. Sang singa mengatakan kepada rubah bahwa dia tidak usah takut, dia akan berterima kasih kepada rubah jika rubah mau menolongnya. Akhirnya singa dapat keluar dari rawa-rawa dengan dibantu oleh rubah. Kemudian singa itu mengundang rubah dan keluarganya untuk tinggal bersamanya. Mereka dapat bertahan hidup rukun untuk beberapa waktu. Suatu hari ketika singa dan rubah pergi berburu, singa betina melukai anak rubah karena cemburu. Setelah mereka kembali dari berburu, anak rubah itu menceritakan apa yang terjadi. Singa itu kemudian memberitahukan singa betina bahwa rubah itu pernah menyelamatkannya dulu dan mereka harus berterimakasih kepada si rubah. Sejak itu mereka dapat hidup dengan rukun selama tujuh generasi.
v. MEMILIKI TEMAN-TEMAN SPIRITUAL YANG BAIK (KALYANAMITTA)
Jika kita memiliki teman spiritual yang baik, kapanpun kita mendapat masalah mereka dapat membantu kita memecahkan masalah tersebut. Suatu ketika Y.M. Ananda berpikir, dengan memiliki seorang teman spiritual yang baik berarti separuh perjalanan menuju pencerahan telah diselesaikan, separuhnya lagi adalah hasil usahanya sendiri. Dia bertanya pada Sang Buddha kemduian apakah pandangannya benar atau salah. Sang Buddha berkata bahwa memiliki seorang teman spiritual seperti telah menyelesaikan sebuah perjalanan menuju pencerahan.
Dalam hal ini teman spiritual yang baik mengacu pada Sang Buddha. Sang Buddha memberitahu Ananda bahwa di masa lalu sebelum dia bertemu Sang Buddha, dia harus berkelana melalui kehidupan yang tak terhingga di Samsara. Sekarang dia telah bertemu Sang Buddha, teman spiritualnya, sehingga dia dapat membebaskan diri dari Samsara.
vi. MEMATUHI PETUNJUK DARI TEMAN SPIRITUAL (DAHLABHATTICA)
Seseorang harus bersikap rendah hati dan tulus dalam mematuhi petunjuk dari teman spiritual untuk dapat memperoleh manfaat yang utuh. Di masa Sang Buddha hidup, Devadatta, yang merupakan saudara ipar Sang Buddha, memiliki kekuatan batin. Tetapi karena kekotoran batinnya, dia tidak mematuhi petunjuk Sang Buddha. Akibatnya, dia sekarang menderita di neraka, walaupun sebenarnya dia dapat mencapai pencerahan di bawah bimbingan Sang Buddha.
vii. MENOLONG ORANG LAIN JIKA MEMUNGKINKAN (DUKHITASSA SAKKACCAM KAROTI KICCAM)
Kadang-kadang, ketika kita melihat orang lain dalam kesulitan, seperti pada saat mereka membutuhkan makanan, tempat tinggal, tumpangan, obat-obatan dan lain sebagainya, kita seharusnya berusaha keras untuk menolong mereka. Kita seharusnya memperlakukan mereka dengan penuh simpati, welas asih dan cinta kasih, tetapi seharusnya juga menggunakan kebijaksanaan kita sejalan dengan kemampuan kita dalam menolong mereka. Inilah jalan dari seorang Mahapurisa.
Sekarang ktia telah mengetahui sifat dari Mahapurisa atau Sappurisa, kita seharusnya berusaha sebaik-baiknya untuk dapat menyamai langkah seorang Sappurisa.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar